Puisi Habibi untuk Istri Tercintanya "Ainun"





Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu sayang. Tapi karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu kekasihku.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku melangsang setengah mati , hatiku tak seperti tak ditempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang...

Pada air mata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit, manis, selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau dsisni. Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang, tanapa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan sayang, kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan Sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan calon bidadari surgaku... 

Related Posts: