Cintaku tulus untuk imamku..
Sampai dimanakah kita
harus bersabar menanti cinta kita???
Hari itu aku dengannya
berkomitmen untuk menjaga cinta kita. Aku menjadi perempuan yg paling bahagia,
pernikahan kami sederhana namun penuh dengan kebahagiaan.
Aku bersyukur menikah
dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan dan mapan.
Ketika kami berpacaran
dia sudah sukses dalam karirnya. Aku dan suamiku merencanakan berbulan madu di
tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu dan setelah menikah.
Aku sangat bahagia
dengannya, dan dia juga sangat memanjakan ku, sangat terlihat dari rasa cinta
dan rasa sayangnya pada ku. Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang
serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia
menikah dengannya.
Lima tahun berlalu sudah
kami menjadi suami istri, tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami
hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya
seorang anak di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
Karena dia anak lelaki
satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan
penerus generasi baginya. Dan Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku, ia
mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.
Tapi keluarganya mulai
resah, dari awal kami menikah, ibu dan adiknya tidak menyukaiku. Aku sering
mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu
berusaha menutupi hal itu dari suamiku.
Didepan suami ku mereka
memperlakukan aku sangat baik, tapi dibelakang suami ku, aku serin dihina
oleh mereka , Pernah suatu ketika, suamiku mengalami kecelakaan pada saat usia
pernikahanku menginjak angka 1 tahun, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku
selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda.
Ia dirawat dirumah
sakit, aku selalu menemaninya siang dan malam sambil kubacakan lafadz ayat suci
Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dari tempat aku melakukan
aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sedang sakit. Namun saat
ketika aku kembali ke rumah sakit, di dalam kamar tempat suamiku dirawat aku
melihat ada ibu, adik iparku dan teman-teman suamiku, dan aku juga melihat ada
seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Aku mendengar
suara seperti orang yang sedang bahagia, tertawa lepas sperti tidak sedang
tertimpah musibah, mereka seperti sedang menghibur seseorang.
Dan ternyata
Alhamdulillah suamiku sudah sadar, aku tak kuasa menahan air mata yang akan membasahi
pipiku, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.
Kubuka pintu sambil
mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam
sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku dan
tersenyum, mungkin ia rindu padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu
tertutup.
Setelah aku
menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun
menjawab salam ku dengan suaranya yang lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun
senyum melihat wajahnya. Lalu Ibu mertuaku berbicara denganku
“Fis, kenalkan ini Desi
teman Fikri”.
Aku teringat cerita dari
suamiku bahwa teman baiknya pernah menyukainya, dan wanita itu bernama Desi,
dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Dan hari ini aku bertemu dengan
wanita itu. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, aku tidak begitu
memperdulikan dia, dan aku juga tak mengerti apa yg mereka bicarakan. Aku sibuk
membersihkan dan mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku
membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku
keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian
aku pun menemaninya. Sesampainya di kantin adik ipar ku berkata, ”lebih baik
kau pulang saja, ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”
Anehnya, aku tak
diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak
beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya
mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi
tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang
sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak
berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya
Salah ataupun Tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi
meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata. Sejak saat itu aku tidak
pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku
hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat
membenciku.
Pagi itu, pada saat aku
membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia
baru saja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil
melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.
Aku bertanya, ”Ada apa
kamu memanggilku?”
Ia berkata, ”Besok aku
akan menjenguk keluargaku di Sabang”
Aku menjawab, ”Ia
sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan
kamu sudah memeegang tiket bukan?”
“ Ya tapi aku tak akan
lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan
keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”,
jawabnya tegas.
“Mengapa baru sekarang
bicara, aku fikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya
penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru
memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah
mencarikan tiket pesawat untuknya.
”Mama minta aku yang
menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.
”Sekarang aku ingin
seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut
nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan
keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.
Aku selalu merasa
bahagia saat aku berada di sampingnya, suamiku selalu memberikan rasa sayang
dan cintanya padaku, walau terkadang aku merasa bahwa suamiku bersikap kurang
adil terhadapku. Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama
Suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu
padaku karena Suamiku sangat sayang padaku. Kemudian aku memutuskan agar ia
saja yg pergi.
Karena ini acara sakral
bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku
pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak.
Ketidak hadiranku justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau
membuat riuh keluarga ini. Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil
membereskan keperluan yang akan dibawa suamiku ke Sabang, ia menatapku dan
menghapus airmataku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak
merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan
terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya walaupun
hanya sementara. Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena biasanya
aku selalu disampingnya kemanapun ia pergi.
Berjauhan dengan
suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku
mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku tak terlalu kesepian
ditinggal pergi suamiku. Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami
memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit
oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku
mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang
kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim
stadium 3. Aku tak tahu cobaan apa lagi yang akan aku hadapi, apa yang bisa aku
banggakan lagi. Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang
selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku, namun aku tak bisa
memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.
suamiku pulang, Sudah 3
minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami,
ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk, kubuka di inbox ponselku,
ternyata dari suamiku yang sms. Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang,
aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.Hanya itu saja yang
diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini.
Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah. Sebagai seorang istri,
aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku
pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg
buruk akhir-akhir ini. Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun
mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia
tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci
kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami. Setelah
itu akupun berdiri dan langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya.
Masya Allah.. ia tidak
mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian
mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku, Aku hanya berpikir, mungkin dia capek.
Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan
1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha
Pencipta. Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur
sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengelus wajahnya dan aku
cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat dan witir 3 raka’at.
Aku mendengar suara
mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang
bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian
aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah
yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.
Aku merasa ada yang aneh
dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa
terhadapku?
Aku tidak bisa diam
begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung
menelpon kerumah mertuaku dan kebetulan Dian adik iparku yang mengangkat
telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan
suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun
langsung terputus.
Ada apa ini? Tanya
hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari
kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung
jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku
selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang
terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah, Bahkan
yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku.
Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku
selalu ingat, sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di
atas para istri, itu yang slalu aku ingat. Aku hanya berdo’a semoga suamiku
sadar akan prilakunya.
Dua tahun sudah berlalu,
suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti
seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan. Kemesraan yang
kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku
tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakit ku pun masih
aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa
yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku
pendam. Aku tak tahu sampai kapan ini semua akan berakhir.
Aku tetap bersyukur, aku
punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku
tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat
semampuku. Sungguh, suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah
menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk
berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku
memanggilku.
“Ya, ada apa Yah!”
sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.
“Lusa kita siap-siap ke
Sabang ya.” Jawabnya tegas.
“Ada apa? Mengapa?”,
sahutku penuh dengan keheranan.
Dia mengatakan ”Kau ikut
saja jangan banyak tanya!!” dengan kasar dia membentakku, aku sangat terkejut,
tapi aku tidak ingin berpikir yang akan membuat kami bertengkar,
Lalu aku pun bersegera
mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih
karena suamiku kini tak ku kenal lagi.
Lima tahun kami menikah
dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg
dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi
dingin. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak
berteriak, tapi aku tak bisa. Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar,
berbicara dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang
perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa
bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku.
Kami telah sampai di
Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur Keluarga
besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu dan adik-adiknya. Aku tidak
tahu ada acara apa ini. Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak
betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar dan bergabung dengan
keluarga besarnya.
Baru saja aku membongkar
koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu
kamar, tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk
bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang
berada ditengah rumah besar itu, kemudian aku duduk disamping suamiku, dan
suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.
Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas
semuanya, membuka pembicaraan.
“Baiklah, karena kalian
telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara
sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.
”Ada apa ya Nek?”
sahutku dengan penuh tanya. Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan
keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda
kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.
Aku menangis untuk
inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?
“Sebenarnya kami sudah
punya calon untuk Fikri, dari dulu sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri
anak yang keras kepala, tak mau di atur, dan akhirnya menikahlah ia dengan kau”
Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu
semua. Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
“Dan aku dengar dari ibu
mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan
pembicaraan itu. Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air
matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak
punya keberanian itu.
Neneknya masih saja
berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah
yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau
diceraikan?“
MasyaAllah.. kuatkan
hati ini, aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur
hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku,
Aku selalu munutupi
masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau kayu, mereka mengira
aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.
“Fish, jawab!.” Dengan
tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.
Aku langsung memegang
tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan
tegas. Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat
berdiskusi dengannya melalui bathiniah.
“Untuk kebaikan dan masa
depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami..”
Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu
juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit
pun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada
suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”
Suamiku menjawab, ”Dia
Desi!”
Aku pun langsung menarik
napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus
saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”
Ayah mertuaku menjawab,
“Pernikahannya 2 minggu lagi.”
”Baiklah kalo begitu
saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK di
kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke
kamar, Tak tahan lagi air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku
buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi
aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi.
Apakah karena ini
suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?
Aku berjalan menuju ke
meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak
cantikkah aku ini?“
Ku ambil sisirku, aku
menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku
memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah
botak dibagian tengahnya.
Tiba-tiba pintu kamar
ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus
air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu. Kami diam
sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat
kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya
kan?.” Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia
tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan
salah memakai shampo. Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia
sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat
yuk!“, “Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.
Dalam sholat dan dalam
tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami
dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.
Aku tak tahu kalau Desi
orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali
seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya
itu..Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di
laptopku.
Di laptop aku menulis
saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah
menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa
salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku save di mydocument yang
bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”
Hari pernikahan telah
tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat
jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat
sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama, lalu suamiku yang telah siap dengan
pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.
“Apakah kamu sudah
siap?”
Kuhapus airmata yang
menetes dipipku, sambil berkata “Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika
kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu
mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan
do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah
itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu,
aku ingin menagis meledak.
Tiba-tiba suamiku
menjawab “Lalu apa Bunda?”
Aku kaget mendengar kata
itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata
yang berbinar-binar, “Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan yah?”,
pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar. Dia mengangguk
dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus
wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat
tinggi, aku hanya sedadanya saja.
Dia tersenyum sambil
berkata, ”Kita lihat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah
wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.
Kemudian ia mencium
keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan
segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah?
Aku kangen belaian kasih sayang Ayah, Aku kangen dengan manjanya Ayah, Aku
kesepian Ayah, dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah
berzinah! Dulu, waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa
melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang
dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina
Ayah.”Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata,
”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.
Saat itu juga,
diangkatnya badanku, ia hanya menangis. Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku
menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang
tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya
dengan penuh khawatir. Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali
seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“.
Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu
menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.
Setelah sampai dimasjid,
ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.
Aku melihat suamiku
duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini hancur, ingin rasanya
berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku yang tidak
memungkinkan karena penyakit ini.
Tak sanggup aku melihat
mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi
itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan dengan penuh tanda tanya,
mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu hatiku
menangis. Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja.
Tak mencuci kakinya. Aku heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka
dengan pernikahan ini?
Sementara itu Desi
disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di
musuhi. Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan
perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan
didalam sana.
Sepertiga malam pada
saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada
lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat.
Masya Allah, suamiku tidak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa,
aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia
memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.
“Kamu datang ke sini,
aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat
lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu,
kamu menderita karena keegoisanku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi
pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”, Aku menatapnya dengan penuh
bingungan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku
sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya
Allah apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku
sekarang, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi masih bisakah
engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama
2 tahun ini..
Suamiku berbisik, “Bunda
kok kurus?”
Aku menangis dalam
kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.
Aku pun berkata, “Ayah
kenapa tidak tidur dengan Desi?”
”Aku kangen sama kamu
Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku
yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.
Lalu suamiku berkata,
”Bun, Ayah minta maaf telah menelantarkan bunda, selama ayah di Sabang, ayah
dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu,
seperti mengejar harta ayah dan ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan
pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan
seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut
bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum
bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu
memanjakan bunda”
Hati ini sakit ketika
difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena
omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai
suamiku. Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah, Aku tidak pernah
berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu,
mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu
itu, Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis
karena menderita mencintaimu“
Malam itu, aku
menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap
keluarganya juga.
Karena aku tak mau mati
dalam hati yang penuh dengan rasa benci.
Keesokan harinya, ketika
aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit
sekali, aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku,
aku pun dilarikan ke rumah sakit. Dari kejauhan aku mendengar suara zikir
suamiku, aku merasakan tanganku basah, ketika mata ini terbuka, kulihat wajah
suamiku yang penuh dengan rasa kekhawatiran.
Ia menggenggam tanganku
dengan erat, dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf”
Berkali-kali ia
mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?
Aku berkata dengan suara
yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang, bunda ingin bertemu kedua orang tua
bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”
“Ayah jangan berubah
lagi ya! Janji ya, Yah!!! Bunda sayang sama Ayah.”
Tiba-tiba saja kakiku
sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi, aku
tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang berlinang air mata.
Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan
kalimat tahlil.
Aku bahagia melihat
suamiku punya pengganti diriku setelah aku tiada, Aku bahagia bisa melayaninya
dalam suka dan duka, Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.
Untuk Ibu mertuaku :
“Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati
anakmu. Ketahuilah Ma, dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan
kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya
Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma?
Fikri tetap milikmu Ma,
aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu
mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau membenci diriku,
dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya”
Setelah ku buka laptop,
kubaca curhatan istriku.
Ayah, mengapa keluargamu
sangat membenciku?
Aku dihina oleh mereka
ayah..
Mengapa mereka bisa baik
terhadapku pada saat ada dirimu?
Pernah suatu ketika aku
bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut
dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..
Tapi ketika engkau
bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan
yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah ?
Aku tak bisa berbicara
tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya
Yah..
Aku diusir dari rumah
sakit.
Aku tak boleh merawat
suamiku.
Aku cemburu pada Desi
yang sangat akrab dengan mertuaku. Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama
mertuaku. Aku sangat marah, Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan
pasti membela Desi dan ibunya..
Aku tak mau sakit hati
lagi..
Ya Allah kuatkan aku,
maafkan aku..
Engkau Maha Adil..
Berilah keadilan ini
padaku, Ya Allah..
Ayah sudah berubah, ayah
sudah tak sayang lagi pada ku..
Aku berusaha untuk
mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..
Aku kuat ayah dalam
kesakitan ini..
Lihatlah ayah, aku kuat
walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..
Aku bisa melakukan ini
semua sendiri ayah..
Besok suamiku akan
menikah dengan perempuan itu. Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui, tapi
aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku. Aku harus sadar
diri.
Ayah, sebenarnya aku tak
mau diduakan olehmu..
Mengapa harus Desi yang
menjadi sahabatku?
Ayah.. aku masih tak
rela..
Tapi aku harus ikhlas
menerimanya. Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya. Semoga saja
aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku. Aku ingin sekali
merasakan kasih sayangnya yang terakhir. Sebelum ajal ini menjemputku. ”Ayah..
aku kangen Ayah”
’’Dan kini aku telah
membawamu ke orang tuamu, Bunda..
Aku akan mengunjungimu
sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.
Aku akan selalu membawakanmu
bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit
tertusuk duri.’’
Bunda tetap cantik,
selalu tersenyum disaat tidur..
Bunda akan selalu hidup
dihati ayah..
Bunda.. Desi tak
sepertimu, yang tidak pernah marah..
Desi sangat berbeda
denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di
creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.
Ayah menyesal telah
menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam
kesendirianmu..
Seandainya Ayah tak
menelantarkan Bunda, mungkin Ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda
yang halus..
Sekarang Ayah sadar,
bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..
Bunda.. kamu wanita yang
paling tegar yang pernah kutemui..
Aku menyesal telah asik
dalam ke-egoanku..
Bunda.. maafkan aku..
Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang..
’’Maafkan aku, tak bisa
bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku,
karena aku takut menjadi anak durhaka.
Maafkan aku ketika kau
di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja..
Apakah Bunda akan
mendapat pengganti ayah di surga sana?
Apakah Bunda tetap
menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?
Tunggulah Ayah disana
Bunda..
Bisakan? Seperti Bunda
menunggu ayah di sini.. Aku mohon..
’’Ayah Sayang Bunda….”
https://amininoorm.wordpress.com

