Hembusan Cinta






Kami berkenalan melalui sosial media, saat itu aku memutuskan untuk menerima ajakannya agar kami berjumpa, tapi aku tak punya keberanian, aku  mengajak adik permpuanku ikut bersamaku dan akhirnya kami pun berbincang-bincang disebuah taman.
Aku tak pernah percaya kata orang-orang bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada, dan entah kenapa hati ku berdebar saat pertama kali aku melihatnya, aku merasa malu rasanya pipi ku mulai memerah seperti tomat, apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?
Hubungan kami terus berlanjut, sampai akhirnya dia melamarku dengan penuh kejutan, semua dipersiapkannya dengan matang, keluargaku, sahabat-sahabatku, semuanya ikut hadir dalam kejutan yang ia persiapkan untukku, di depan semua orang ia mengulurkan sebuah kotak merah yang berisikan cincin yang sangat indah, dan dia berlutut di hadapanku sambil mengatakan “will you marry me..?”. Saat itu aku tak bisa berkata apa-apa, mulutku seperti terkunci, tangan dan kakiku gemetar, yang ku rasakan hanya air mata yang jatuh dipipiku, perasaanku campur aduk, aku sangat bahagia, dan beberapa menit kemudian aku pun menjawab “yes, I want ”.
Dan aku memutuskan untuk hidup dengannya, dengan lelaki yang sangat aku cintai, imam yang dikirimkan Allah untukku. Memulai lembaran baru di hidupku, menulis setiap helai lembaran dengan penuh kebahagiaan, aku merasa seperti orang yang paling bahagia di dunia, Allah mencintaiku dia memberikan aku kebahagiaan yang luar biasa, dia menyatukan aku dengan lelaki yang sangat aku cintai. Tak henti-hentinya aku bersyukur kepada sang illahi pemilik semesta alam.
12 bulan usia pernikahan kami, tak terasa sudah setahun aku se atap dengan imamku, berbagi suka dan duka bersama-sama, tapi sampai saat ini kami belum di karunia seorang anak.  karena suamiku anak pertama, ibu mertuaku sangat menginginkan cucu pertamanya dari kami tapi suamiku belum menginginkan ada tangisan bayi di rumahku,dia ingin menikmati kebersamaan kami, aku bingung siapa yang harus aku dengarkan, aku tak ingin membuat mertuaku kecewa, tapi disisi lain aku juga tak ingin membuat keharmonisanku dan suamiku hilang.
Dan hari dimana semuanya akan berubah pun datang..
Aku bertengkar dengan suamiku, aku tak tahan dengan tekanan mertuaku yang sangat menginginkan cucu dariku, aku tidak menyalahkan mertuaku, bagiku itu sangat wajar, dia hanya menginginkan menjadi seorang nenek dan menggendong cucunya, dan aku juga tidak marah dengan suamiku, dia hanya ingin menikmati kebersamaan kami. Pada saat suamiku pulang kerja seperti biasa, aku mencium tangannya, dan dia mencium keningku, ku siapkan air hangat untuk dia mandi, dan aku siapkan makanan kesukaannya di atas meja, setelah smuanya selesai aku pun memulai membuka pembicaraan dengannya “mas, boleh kita berbicara sebentar, ada yang ingin aku sampaikan”,  sambil menonton film kesukaannya dia pun menjawab “apa yang ingin bunda sampaikan, katakan saja mas mendengarkannya”, aku pun memegang wajahnya dan mengarahkan wajahnya di hadapan wajahku “bunda ingin kita menjadi orang tua, bunda ingin kita memiliki malaikat kecil”, tapi suamiku tidak memperdulikan aku, dia hanya mengatakan “itu sudah kita bahas sebelum kita menikah kan, mas tidak mau membahas itu lagi”, dan dia mengabaikanku, dia melanjutkan nonton film kesukaannya. Aku tidak ingin merusak suasana, aku tidak ingin membuat suamiku marah “baiklah aku mengerti”. Tak pernah lupa dia selalu mencium keningku dan memelukku saat kami beranjak untuk tidur.
Hari ini aku memasak tidak seperti biasanya, karena mertuaku akan datang. Aku mendengar suara pagar yang terbuka, kulihat di balik jendela depan rumah, mertuaku dan adik iparku sudah sampai di istana kecilku dan segera aku menghampiri mereka dan memberi salam “Assalamu’alaikum ma, gimana perjalanannya, pasti melelahkan ya?”, “wa’alaikumsalam, iya, pinggang mama mau copot rasanya” sambil tersenyum dan mengusap kepalaku, “yaudah ma, ayuk masuk, istirahat di dalam, sudah rani persiapkan semua”.
Saat kami berkumpul untuk makan siang, mertuaku bertanya “kemana suamimu? Kenapa jam segini dia belum pulang?”, “mungkin sebentar lagi mas dani pulang mah”, “oh baiklah”. Tak lama aku mendengar suara handpone ku berdering, dan ternyata suamiku yang menelpon.
“assalamu’alaikum mas”
“wa’alaikumsalam”
“ada apa mas? Tumben kamu jam segini belum pulang? Kamu nggak papa kan mas?”
“istriku yang cantik, yang salehah, jangan khawatir, mas nggak papa, mas mau bilang kalau hari ini mas pulang telat karena ada pekerjaan yang belum mas selesaikan”
aku tersipu malu mendengar perkataan suamiku yang memujiku, sambil mengelus dada “Alhamdulillah mas nggak papa, yaudah mas selesaikan dulu pekerjaannya, aku menunggumu di rumah”
dan akupun mengakhiri pembicaraan kami.

“Rani, kemari nak” aku mendengar mertuaku memanggilku, segera aku hampiri mereka di rungan tengah tempat biasa kami berkumpul “ada apa mah?”, “duduk disini, di samping mama, ada yang ingin mama bicarakan dengan rani”, tak sabar aku mendengar yang ingin di katakan oleh mertuaku, aku pun langsung duduk di sampingnya “apa yang ingin mama bicarakan?”, “kapan mama bisa menggendong cucu, Ran?”, aku tak bisa menjawab apa-apa, aku tak ingin menyakiti hatinya, mertuaku sangat menginginkan cucu dariku, tak sampai hati membuat dia bersedih “Ran, sudah setahun lebih kalian menikah, apakah tidak ada tanda-tanda kehamilanmu nak?” ibu mertuaku melanjutkan pertanyaannya.
“mungkin Allah belum mepercayai kami untuk bertanggungjawab ma” cuma ini yang bisa aku katakana pada mama, aku tak sanggup mengatakan bahwa suamiku lah yang belum mau kami memiliki anak. “baiklah mama akan bersabar dan terus berdo’a agar kalian segera memiliki anak”, sambil mengusap rambutku mama tersenyum, tak tega hati ini melihat mertuaku seperti ini.

Keesokan harinya ibu mertuaku kembali ke kampung halamannya, rumah ini terasa sepi tanpa mereka, aku pun memberanikan diri untuk berbicara kepada suamiku tentang keinginan ibu mertuaku, aku tau suamiku tidak suka kami membahas ini, tapi aku tak tega melihat ibu mertuaku yang sangat ingin menjadi seorang nenek, “mas aku ingin memberikan cucu untuk mama”, seperti biasa, suamiku  tidak memperdulikan pembicaraanku, aku segera menarik handpone yang sedang dia mainkannya, “mas tolong dengarkan aku, aku ingin punya anak”, suamiku tiba-tiba mengeraskan suaranya “aku tidak ingin memiliki anak, aku ingin ketenangan, karena anak Cuma bisa bikin kita susah, ngerti !!”, aku terkejut mendengar perkataan suamiku “anak itu Anugrah mas, lagian mama sangat menginginkan cucu dari kita, aku tak tega melihat mama mengatakan bahwa dia ingin menggendong cucu pertamanya sebelum dia pergi, apa mas tidak mengerti itu”, wajah suamiku memerah, aku tak mengerti apa yang ada di pikirannya. “kalau kamu ingin memiliki anak, silahkan kamu nikah dengan laki-laki lain”, dia pergi begitu saja sambil membanting pintu kamarku, hatiku hancur, ingin rasanya aku berteriak, ingin rasanya aku menampar suamiku, tapi aku urungkan semua itu, aku hanya bisa menangis, kenapa suamiku seperti ini, kenapa laki-laki yang sangat aku cintai berkata seperti itu padaku. Hanya Allah tempatku mengadu.
Semenjak kejadian hari itu suamiku tidak seperti biasanya, pulangnya selalu terlambat, dia tidak pernah lagi mencium keningku, bahkan dia tidak memelukku saat tidur, “ya Allah, kuatkan aku dalam menghadapi suamiku, aku mencintainya, kembalikan keharmonisan kami dulu ya Allah, bukakanlah pintu hatinya” doa yang slalu aku panjatkan ketika aku mengadu kepada sang pencipta.
Hari ulang tahun nya pun sudah tiba, aku membuat sebuah kejutan untuk suamiku, dan aku ingin mengembalikan suamiku yang dulu, mengembalikan keharmonisan kami dulu. Kuhidangkan masakan kesukaanya, kunyalakan lilin yang penuh kehangatan, kuselipkan sebuah surat di atas kado yang akan kuberikan kepadanya nanti, dan aku memakai baju kesukaanya yang dia berikan padaku saat aku berulang tahun, tak sabar aku menanti kedatangannya.
Pukul 00:00 WIB tak biasanya selarut ini suamiku belum pulang juga, aku semakin cemas, lilin-lilin sudah mulai padam, ku ambil handpone ku, hatiku tidak tenang, segera aku menelponnya dan ternyata handponenya tidak aktif “ya Allah bagaimana ini, apa yang terjadi dengan suamiku, mengapa handponennya tidak aktif” hatiku semakin tak tenang, tanpa berfikir panjang aku keluar untuk mencari suamiku dengan motor, tapi tak ada satu pun yang tau dimana suamiku, aku sudah mencari ke tempat dia biasa berkumpul dengan teman-temannya tapi aku tidak menemukannya, hati ini semakin tidak tenang saat sedang mencarinya aku seperti melihat plat mobil suamiku di parkiran rumah  seseorang, tak sabar aku segera menghampiri mobil suamiku yang di seberang jalan, aku tak melihat ada mobil truk mini yang sedang melaju dengan kencang, dan hari dimana semuanya terasa gelap pun tiba, aku tak merasakan apapun, semuanya gelap, aku hanya mendengar seperti suara ambulan dan orang yang menangis. Akhir dari kebahagiaanku adalah malam ini.

”Suamiku sayang, imamku, lelakiku, hari ini adalah hari ulang tahunmu, tak henti-hentinya aku selalu berdo’a kepada sang illahi agar mas di berikan umur panjang, diberikan tubuh yang sehat, dan selalu dalam lindungan-Nya.
Suamiku sayang, aku adalah istrimu, wanita yang mengabdikan hidup untukmu, wanita yang selalu mencintaimu, wanita yang sangat merinduimu.
Suamiku sayang, setiap kau tertidur aku selalu memandingi wajahmu, wajah saat kau lelah bekerja untuk mencari kewajibanmu, aku slalu memandangimu saat kau makan, tidak pernah kau sapu bibirmu dari sisa makanan, aku slalu memandangimu saat kau tersenyum padaku, aku slalu memandangimu saat kau melangkah pergi dari rumah untuk bekerja, aku merinduimu.
Suamiku sayang, aku merindukan kamu yang dulu, yang penuh dengan kehangatan, yang penuh dengan kelembutan, yang penuh dengan kasih sayang, aku sangat merinduimu.
Suamiku sayang, aku tidak mengerti mengapa kau tidak menginginkan seorang malaikat kecil hadir di hidup kita, aku mencintaimu, tapi mamamu juga mamaku, aku tidak menyakiti hati mama yang snagat menginginkan cucu, tapi di sisi lain aku juga sangat menghormati keputusanmu.
Suamiku sayang,  surgaku ada padamu, maafkanlah semua kesalahanku, aku ingin kita kembali seperti dulu, seperti saat kau memanjakan aku, mencium keningku, dan mendengar kata-kata dari mulutmu saat sebelum tidir, kau selalu mengatakan bahwa kau sangat mencintaiku, aku sangat merindukanmu,  jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku terus menderita karena rasa sakit ini, jiwamu bersamaku, tapi hatimu seperti membeku untukku, aku selalu merasakan itu, imamku aku sangat menyayangimu dan aku sangat mencintamu karena Allah.
Suamiku kembalillah …. kembalilah untuk cinta kita.
I LOVE YOU.
Dari Wanita yang tak pernah berhenti mencintaimu.
Sepucuk surat terakhir istriku yang di buatnya saat malam itu, saat dia mempersiapkan sebuah kejutan untukku, “ya Allah apa yang sudah ku lakukan kepada istriku, istri yang selalu mencintaiku, istri yang selalu sabar atas sikapku, istri yang selalu ada untukku, tapi apa yang sudah ku lakukan ya Allah maafkan semua kesalahanku, aku telah menyia-nyiakan bidadari syurga yang engkau kirimkan kepadaku, berikan hamba kesempatan untuk membahagiakannya”.
Tak sanggup ku menahan air mata ini, kakiku mulai lemas, rasanya tak sanggup aku melihat wajah istriku yang terbaring tak berdaya, penuh dengan selang di tubuhnya. Dia hanya ingin membahagiakan aku dan ibuku, aku membuatnya susah karna keegoisanku.
Saat aku melihat istriku di rumah sakit, seorang dokter menghampiriku dan bertanya “apakah anda suami ibu rani?”
“iya dok, saya suaminya rani, bagaimana istri saya dok?”
“istri bapak sedang mengandung, Alhamdulillah kandungannya selamat, tapi…” dokter itu menjawab.
tak sabar aku ingin mendengar kelanjutannya “tapi apa dok?”
“kita tidak bisa menyelamatkan keduanya”
“maksud dokter apa?” emosiku tidak bisa ku kendalikan, pernyataan yang di berikan dokter sangat membuat aku takut.
“jika bapak ingin istri bapak selamat maka kita harus menggugurkan anak itu, tapi jika bapak ingin mempertahankan anak bapak, kemungkinan kecil untuk istri bapak selamat, semua keputusan ada di tangan bapak” tegas dokter tersebut.

Aku memohon petunjuk kepada Allah, keputusan semua ada di tanganku, beban ini semuanya hanya kepada Allah SWT tempat ku mengadu.

Saat aku melihat sebuah buku kecil di lipatan pakaian istriku, ternyata itu adlah buku harian istriku, aku tidak berniat membacanya, tapi hatiku ingin sekali membacanya, selama ini aku tidak pernah tau apa yang dia inginkan, yang ku tahu adalah apa yang aku inginkan tanpa memperdulikan keinginan dia.
Lembaran demi lembaran aku baca sampai pada akhirnya aku berhenti dan menangis saat ku baca keinginan besar yang di pendam istriku selama ini.
“suamiku, aku mencintaimu, aku tidak ingin melanggar perintahmu, aku juga tidak ingin mengecewakanmu, aku ingin melihatmu selalu tersenyum kepadaku, aku ingin mengabulkan semua permintaanmu, karna kebahagiaanmu juga kebahgiaanku, aku tahu aku bukan istri yang sempurna, tapi aku akan tetap terus berusaha menjadi yang terbaik di hidupmu. 
Suamiku saat kau berangkat kerja aku slalu merasa kesepian, aku tak ingin jauh darimu, tapi aku juga tidak ingin membuatmu terbebani karna aku. Suamiku aku ingin sekali kita mempunyai bidadari kecil yang bisa menemaniku, 2 tahun sudah kita menikah, aku tahu kamu tidak menginginkannya, tapi suatu saat jika umurku sudah habis, bidadari kecil kita bisa menemanimu, dia akan terus bersamamu, kau akan melihat diriku didalam dirinya, suamiku aku sangat mengnginkannya, aku tidak mengerti kenapa kamu seperti ini, aku tidak ingin membuatmu marah, aku ingin selalu berada disampingmu, kembalilah kepadaku sperti yang dulu, aku merindukanmu.
aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya, aku takut kamu meninggalkan aku, aku takut semakin menjauh sperti sekrang ini, jika aku bilang bahwa aku sedang mengandung buah hati kita.
suamiku maafkan aku, tapi aku sangat menginginkan anak kita, aku merasakan detak jantung bayi mungil kita di dalam kandunganku, aku merasakan bahwa kau selalu ada di sampingku, aku sangat menginginkan buah hati kita, aku mohon tolong kabulkan permintaanku ini, apapun yang terjadi jangan pernah menyianyiakan anak kita. Karna aku sangat mencintaimu.”

Tangan ini gemetar, jantung ini seakan-akan ingin berhenti berdetak, air mata ini terus membanjiri pipiku, rasanya aku ingin memukul diriku sendiri “Apa yang sudah ku perbuat kepada istriku ya Allah, selama ini aku tidak memperhatikannya, selama ini aku hanya memikirkan diriku saja, selama ini istriku menyembunyikan kehamilannya karena tidak ingin membuatku marah, dia hanya memikirkan diriku, aku tidak menginginkan amanah yang engkau berikan, aku menyesal ya Allah, aku sangat mencintai istriku, aku sangat mencintainya ya Allah, jangan kau ambil dia, sembuhkan dia ya Allah” hatiku menjerit, aku ingin berteriak, Allah telah menegurku dengan semua ini. Kesalahanku kepada Allah dan istriku.
Selama beberapa hari, aku terus berikhtiar kepada Allah, tak henti-hentinya aku memohon petunjuk dan sampai pada hari dimana aku harus memutuskan keputusan yang sangat sulit di hidupku.
Aku mengabulkan permintaan istriku, aku tahu jika dia sadar dari komanya pasti dia akan memilih anak kami dilahirkan dari pada memikirnya nyawanya sendiri, aku sangat mencintai istriku, aku tidak ingin kehilangannya, tapi aku juga ingin membahgiakannya, slama ini aku tidak memperdulikan keinginannya, aku ingin dia tersenyum, aku harap keputusan ku untuk mempertahankan anak kami adalah kebahagiaan dia yang dia inginkan selama ini.
Selama 9 bulan istriku mengandung dalam keadaan koma, selama 9 bulan aku tidak pernah absen untuk selalu disampingnya, aku tidak ingin melewatkan waktuku bersamanya walau hanya sedetikpun, aku ingin terus memandanginya, dia seperti bidadari yang sedang tertidur pulas, wajahnya yang lembut seolah-olah mengatakan aku mencintaimu dan anak kita, aku terus mengusap rambutnya, mencium keningnya. Tidak akan pernah aku lepaskan genggamanku.
Hari itu pun tiba, hari dimana aku mendapatkan hadiah yang istimewa dari istriku, dan aku harus kehilangannya, wanitaku, istriku yang sangat aku cintai.
“Selamat jalan istriku, engkau adalah wanita syurga yang diberikan Allah kepadaku, tak pandai aku bersyukur, sampai engkau meninggalkanku, tanpa bisa melihat aku dan anak kita, sekarang aku akan menjaga anak kita dengan penuh kasih sayang, tak aka nada yang bisa menggantikanmu di hatiku, tidak akan pernah”.
20 tahun berlalu.

Putriku Aisyah “ayah apakah ini pakaian ibu saat menikah dengan ayah dulu?”
“iya anakku, itu kebaya yang di vunakan ibumu saat menikah dengan ayah dulu”
“pasti dulu ibu sangat cantik ya ayah” sambil bersandar dipundak ayahnya.
“iya, ibumu wanita paling cantik yang pernah ada di hidup ayah, dia persis sepertimu”
“andai saja ibu ada disini, ibu akan mempersiapkan pernikahnku dan dia akan memberikan nasehat seperti ibu-ibu lain saat putrinya akan menikah” sambil memeluk baju ibunya.
“jangan menangis anakku, ibumu selalu bersama kita, dia tidak pernah meninggalkan kita walau seditkpun”
“baiklah ayah, aku tidak akan menangis, aku akan tetap kuat walau ibu hanya bisa melihat dari kejauhan sana”
“anakku aisyah, cintaiah suamimu dengan sepenuh hati, jangan pernah kamu sia-siakan ketulusan cintanya kepadamu”
“seperti ayah mencintai ibu?”
“bukan anakku, cintailah suamimu seperti ibu mencintai ayah dan kamu, ibumu sangat mencintai ayah, tapi ayah hanya memikirkan diri sendiri tanpa ingin tahu kebahagiaan ibumu, tapi ibumu tidak pernah mengeluh, dia tetap menjadi istri yang baik, dan selalu mencintai ayah, pengorbananya untuk hidupmu dia rela mengorbankan nyawanya demi anak kami yaitu kamu aisyah, begitu besar cintanya untuk ayah dan kamu, jadilah seperti ibumu, cinta ibumu abadi, tidak ada yang bisa mnggantikan wanita yang seperti ibumu di hati ayah, karna ayah pernah berbuat kesalahan, tapi sekarang tugas ayah sudah selesai, kamu akan menjadi seorang istri, dan surgamu ada pada suamimu

Related Posts:

0 Response to "Hembusan Cinta"

Posting Komentar